Puisi karya aku saat masih duduk di bangku SMP dari Teater Asba SMP N 23 Purworejo.
SAYAP DI SENJA ITU
Akan kudaki aroma mentari yang terbang di surga
untuk menyongsong cakarawala yang sedang tidur
belaian mutiara membuka hati, pikir
kupahat dua kuntum bunga mawar
untuk merona sebuah ketulusan yang biru
surya yang lembut akan terdiam
memutuskan sayap – sayap di angan lembang
Saat di senja itu
kupu – kupu dan kumbang menyatukan cita – cita itu
untuk melintasi rona – rona kasih sayang
di senja itu langit akan tertawa bersama sayap
sang Elang yang begitu gagah berani
Tembok – tembok kehidupan ia lalui
dalam menerawang bahasa antologi
Sayap di senja itu membawa
lelehan dunia ke dalam asa Ilahi
UKIRAN – UKIRAN KASIH
Duri dari bola mata itu teriringi Sang Sujud
adakah modal dari bagaskara yang datang
demi memilih ukiran-ukiran kasih
dari kehidupan di atas sanubari
untuk menghias tarian bayu
antologi cahaya
ukirlah seruling kasih itu
dengan ketulusan yang tercerita dengan nyenyak
Apa arti belaian kasih itu
jika Sang Dunia merengut tentang
artinya perpisahan dan persahabatan
maka jeritan itu akan bersorak sorai
di atas jeritan ukiran-ukiran kasih
Peluru itu terbang melayang memandang
langit dan bumi dengan penuh asamara
pori-pori kasih penuh ukiran
api-api kasih pun penuh dengan ukiran
yang terucap dengan kemarahan
BADAI ADALAH MAUT
Jeritan maut melambung dalam air mata
membuat lagu-lagu semut ingin menjatuhbangunkan
derita-derita dalam luluhan sang berlian
Dewi rembulan sembunyikan rembulan kehidupan
Badai adalah maut
yang menerjang di setiap helaian kursi kejahatan itu
Dunia ini adalah dunia yang terlahir dari rahim
Sang Khalik tapi
Badai itu mengahantam seluruh tarian hidup
lagu dan senandung maut mengakhiri Bulan pupus
hingga Badai adalah maut
Hati yang kian terbakar dalam rongga goa
menyenandungkan petikan lagu kasih dari Badan
oh, Badai yang menghantui malam yan jauh
sinarilah sang petunjuk untuk memendam api
Gunung-gunung tak kembali retak
ENTAH APA
Pesan yang datang itu telah membilur hati
rasa ini telah tertekan untuk membuka topeng itu
keharuan akan bintang mengingatkan aku untuk
mengalur antologi kehidupan
Entah apa yang terjadi
untuk menguntai sajak-sajak embun di pagi hari
JAUH
Ketika peluru bergaerak dari senapannya
aku terbangun dari mimpi salju yang penuh kasih
melihat derita anak-anak dari suara deru petir
lambaian bola mata pun terhampar dengan lemas
Lambat laun di pojok kanan dunia terpatri
dengan kukuh candi-candi tapi apa daya
sang maut telah mengahantam jeritan dunia itu dengan jauh.
dan di saat cahaya itu tenggelam
dunia pun sempat bertanya
Apa daya hidup ini. Ia pun membisu
Sang Khalik tau akan keberadaan orang yang sedang letih
tapi semua itu telah hilang, entah termakan oleh apa
Ibu dan Bapak Negeri menyeru dengan tangis dan terbangun
untuk mengukir kehidupan yang lebih anggun
(Alumnus Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2007)
hehehe...
BalasHapushohoho...
hihihi...